ID | EN
Tekan Enter Untuk Mencari
MENU   ☰
ID EN
Tumbuh Kembang Energi Listrik Di Indonesia

Tumbuh Kembang Energi Listrik Di Indonesia

Oleh: Andik C. Budianto

Pada awal abad ke-19, di Hindia Belanda, terutama di Pulau Jawa, mulai berdiri satu per satu pabrik gula dan teh. Berdirinya pabrik tentu harus disertai pembangunan pembangkit listrik. Mulai saat itulah listrik dikenal sebagai sumber energi.

Hari terus berganti hingga akhirnya Presiden Pertama Republik Indonesia (RI), Ir. Sukarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum pada 27 Oktober 1945. Tak lama setelah RI memproklamirkan diri sebagai negara merdeka pada 17 Agustus 1945.

Waktu terus berjalan, usia republik juga ikut bertambah. Tepat pada 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas dipisah. Perusahaan pengelola listrik diberi nama Perusahaan Listrik Negara (PLN). Perusahaan pengelola gas menjadi Perusahaan Gas Negara (PGN).

Listrik dan Perekonomian Indonesia

Indonesia adalah sebuah negara kepulauan. Berdasarkan data terkini, jumlahnya pada 16 Oktober 2018 mencapai 17.504 pulau. Sementara jumlah penduduk Indonesia, mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 269 juta jiwa pada April 2019.

Jumlah pulau dan penduduk tentu merupakan potensi yang sangat besar bagi kebutuhan energi listrik. Belum lagi jika ditambah dengan pertumbuhan ekonomi sebesar lima persen sejak 2013 hingga 2017.

Kehadiran negara bagi rakyat di sebuah wilayah kepulauan seperti Indonesia dapat disederhakan dalam lima kriteria. Pertama, pembangunan infrastruktur untuk memperlancar transportasi dan mobilitas barang maupun jasa. Kedua, pembangunan sekolah untuk  meningkatkan kecerdasan generasi penerus bangsa. Ketiga, pelayanan kesehatan untuk seluruh penduduk. Keempat, sekaligus yang terpenting adalah ketersediaan listrik yang dapat diakses oleh seluruh rakyat dengan harga terjangkau. Baik untuk masyarakat maupun perusahaan yang berinvestasi di daerah terkait.

Kembali ke 2013, ketika itu, Indonesia tengah memasuki resesi ekonomi.  Defisit neraca perdagangan mencapai 2,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Merupakan defisit yang terbesar bagi Indonesia semenjak krisis moneter pada 1997-1998.

Sebagai pembanding, PDB sejak 2013 – 2017 rata rata tumbuh lima persen. Apabila dibandingkan dengan PDB yang tumbuh enam persen per tahun, dihitung sejak 2009, mengalami penurunan sebesar satu persen. Namun sejak dimulainya pembangunan infrastruktur sejak 2014, PDB mulai naik menjadi 5,02 persen pada 2014 dan kembali mengalami kenaikan menjadi 5,17 persen pada 2018.

Pertanyaannya kemudian apakah ada korelasi antara pembangunan infrastruktur, terutama penyediaan energi listrik dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia?

Sebagian besar ekonom berpendapat pemacu pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah investasi dan konsumsi yang tinggi.  Namun Prof. Dr. Robert Ayres, dalam bukunya “The Economic Growth Engine: How Energy and Works Drive Material Prosperity” mengemukakan sesungguhnya pemacu perekonomian adalah energi. Khususnya listrik.

Cara pandang di atas berdampak luas terhadap perencanaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Menurut data empiris dari Negara-negara berkembang di dunia, setiap 1 kwh konsumsi listrik dalam suatu negara akan memberikan kontribusi sekitar $4 – $5 terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) masing masing negara.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut  penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dalam 12 tahun terakhir, rata – rata 1 kwh konsumsi listrik di Indonesia memberikan kontribusi lebih kurang $3.9 terhadap PDB.

Temuan penelitian menunjukkan untuk negara berkembang, termasuk Indonesia, ada korelasi antara antara konsumsi listrik dengan kontribusi PDB dalam negara negara berkembang. Korelasi diakibatkan  kompleksitas perekonomian negara berkembang yang  sederhana yaitu ekspoitasi sumber daya alam. Akibatnya membuat listrik sebagai salah satu faktor penentu PDB suatu negara.

Kesimpulan di atas mengonfirmasi Analisa Robert Ayres bahwa konsumsi listrik mendorong pertumbuhan ekonomi, bukan sebaliknya. Temuan riset berdasarkan analisa Robert Ayres menunjukkan jika listrik adalah pemacu pertumbuhan.

Maka pendekatan listrik berbasis permintaan kurang valid. Sehingga hampir 65 persen kapasitas listrik terpasang yang berada di Pulau Jawa justru menyebabkan pembangunan nasional menjadi tidak merata.

Menurut studi yang diterbitkan oleh PwC internasional yang rilis pada bulan November 2018, Indonesia akan menjadi negara kelima dengan perekomian terbesar pada tahun 2030 (berdasarkan permintaan listrik) dengan PDB per kapita adalah $ 18.400,00. Apabila pendekatan konsumsi listrik sebagaimana disampaikan di atas kita pakai sebagai tolok ukur PDB Indonesia pada 2030 dengan  jumlah penduduk 295 juta jiwa, maka perhitungannya PDB dibagi dengan $4. Hasilnya, konsumsi listrik sebesar 4.600 kWh per kapita.

Pertanyaannya kemudian apakah cukup energi listrik di Indonesia pada 2030 bisa mensuplai listrik kepada masyarakat Indonesia?

Atau justru target PDB pada 2030 yang akan direvisi?

Hanya waktu yang akan memberikan jawaban terbaik {}.

X
Hasil Pencarian Untuk:
search
Pusat Pelayanan Pelanggan 0-800-100-800-1

Pusat Pelayanan Pelanggan

Kantor Pusat:
Jl. Taman Anggrek Kemanggisan Jaya
Jakarta, 11480
Indonesia

Hotline: +62 800 100 800 1
SMS: +62 822 100 100 81

Telepon: +62 21 536 54 900
Faksimili: +62 21 8064 7955

E-mail:
info@pupuk-indonesia.com

Cek Status Aduan
close

Pusat Pelayanan Pelanggan

alert Tidak boleh dibiarkan kosong
alert Mohon Isi email dengan format yang benar
alert Tidak boleh dibiarkan kosong

Kantor Pusat:
Jl. Taman Anggrek Kemanggisan Jaya
Jakarta, 11480
Indonesia

Hotline: +62 800 100 800 1
SMS: +62 822 100 100 81

Telepon: +62 21 536 54 900
Faksimili: +62 21 8064 7955

E-mail:
info@pupuk-indonesia.com

Instagram: @pt.pupukindonesia
Twitter: @pupuk_indonesia
Facebook: PT Pupuk Indonesia
PT Pupuk Indonesia Customer Care
Youtube: —
Google+: —

close

Terima Kasih

Telah Menghubungi

PUPUK INDONESIA

top
BACK TO TOP